Giri Kedaton, Kerajaan Gresik dimasa lampau

Situs Giri Kedaton

Setelah membuat artikel tentang sejarah asal-usul nama kota gresik, nah gini ceritanya waktu kami take shoot untuk artikel dan video di giri kedaton, terperciklah ide untuk membuat giri kedaton ini menjadi bagian artikel tersendiri, alasannya situs giri adalah sesuatu yang kompleks dan ya cukup layak untuk dibahas tersendiri.

Lebih dari 3 jam kami berada di situs giri kedaton dengan ketinggian 200 mdpl :( disini panas sobat, soalnya pas suhu udara cukup tinggi dan waktu menunjukkan pukul 11 siang hehehe, berasa jadi bule mau tanning ya, ya karena masih musim kemarau, saran sih kalo mau kesini musim2 penghujan aja jadi lebih adem dan halaman situs jadi keliatan seger ijo-ijo rumput, kalo kemarau gersang sob kaya hatiku hehehe.

Jl Sunan Giri

Perlu sobat tau situs ini adalah peninggalan tempat berdirinya dan sekaligus pusat pemerintahan kerajaan giri pada 1409 Saka (1487M), raden paku alias sunan giri menjadi Nata (kepala pemerintahan) bergelar Prabhu Satmata, dan sebagai Pandita (pemimpin umat Islam) dengan gelar Tetunggul Khalifatul Mukminin.

Kalo sobat dari arah makam sunan giri deket kok jalan kaki bisa tapi jangan buru2 nanti capek atau mau diantar dokar atau ojek, tau gak dokar? Delman deh kalo nggatau namanya dokar, delman=dokar sama hehehe, sobat juga bisa bawa motor sendiri bisa langsung masuk ke lahan parkir giri kedaton (parkir gratis bayar seikhlasnya buat sumbangan) tapi sayangnya untuk pengguna mobil nggak bisa sob, sempit jalannya, bisa bikin macet kampung nanti hahaha. Atau mau kalo aku yang antar aja? Yukkk (genits) ;-D


Gapura Giri Kedaton

Permulaannya langsung disambut oleh gapura situs giri kedaton dan terlihat anak tangga yang puanjang banget terus naik dan naik dan naik sampek ke ujung bukit tertinggi hahaha, nggak bikin gempor sih tapi saran jangan bawa kakek2 ya nanti asam uratnya kambuh loh.

Kanan kiri tangga adalah rumah warga tapi semakin tinggi dan mendekati puncak situs ya uda ngga ada rumah warga, sebelum sampe situs sob sebelah kiri adalah makam mpu supo yang bikinin keris kalamunyeng buat sunan giri. beberapa langkah anak tangga lagi langsung disuguhi view situs giri kedaton, dengan gaya punden berundak seperti khas hindu-budha.


View Cakrawala

Tampak view sebelah kiri ada papan informasi sekilas tentang giri kedaton, tapi sayang seribu sayang tulisannya udah pada luntur. Ya begitu deh budaya indonesia kurang merawat fasilitas sejarah yang ada. Di puncak punden tertinggi berdiri bangunan mushola dengan pemandangan luas 360 derajat kota gresik jadi keliatan kecil tuh rumah rumah warga dibawah, ujung batas cakrawalanya laut lepas kalo cuaca bagus sih keliatan ada kapal-kapal di laut.


Bekas Tempat Wudhu

Struktur giri kedaton dibangun diatas bukit kapur solid, tapi ada satu nih yang ganjil selama saya disini, ada 1 buah lubang berbentuk persegi yang di bangun dengan dinding bata disebelah kiri situs dan 2 disebelah kanan situs ini adalah tempat wudhu sob satunya untuk pribadi dan satunya tempat wudhu untuk santri-santri. jadi lubang persegi ini dulunya diisi air donk pastinya, nah gimana caranya bawa air keatas bukit ini sob kan jaman dulu belum ada pipa air, nggak ngebayangin deh ngangkut air keatas bukit cuman buat wudhu doang hehehe. Tapi kalo sobat mau sholat disini ada kran air tempat wudhunya sekarang dibangun pas di sebelah musholanya.

Santri Giri Kedaton konon ada yang dari Madura, Banjarmasin, Ternate, Tidore, Bima, dan Hitu (Filipina). Sunan Giri wafat pada 1428 Saka (1506 M) digantikan Sunan Dalem (1505 – 1545 M), Pangeran Sidomargi (1545 – 1548), Sunan Prapen (1548 – 1605), Panembahan Kawis Guwa (1605 – 1616 M), Panembahan Agung (1616 – 1636 M), dan Panembahan Witana.


Tangga Menuju ke Mushola

Arsitektur punden dibuat berteras-teras dan berundak-undak. Semakin ke atas, tangga berundak itu semakin kecil. Untuk sementara, baru ditemukan lima teras. Batas satu teras dengan teras lainnya ditandai dengan dinding yang berbentuk seperti kaki dan tubuh candi. Kakinya berstruktur polos, sedangkan tubuhnya bermotif pelipit-pelipit datar, bingkai cermin, dan bidang persegi panjang ini berbentuk batu persegi pipih ditumpuk sedemikian rupa, dan ada ukiran di sisinya, struktur yang

Ukiran di Dinding

masih benar-benar alami bisa ditemukan disisi kanan situs, selebihnya adalah restorasi dari arkeolog. Bagian depan dan samping situs terdapat beberapa makan namun tidak tertulis nama secara detail, tapi dibagian belakang situs terdapat makam anak sunan giri raden supeno, nah khusus untuk makam raden supeno sobat harus menemui juru kuncinya dulu jika mau masuk kedalam karena ya emang dipagarin ehehehe masa mau lompat kan nggasopan situs budaya lohh ini, budayakan sopan hehehe.



Giri Kedaton mengalami puncak kejayaan semasa Sunan Prapen dengan wibawa politik besar. Sunan Prapen yang melantik Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, dan raja-raja Islam Nusantara. Ia juga menjadi penengah Sultan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur pada 1568, yang membuat para adipati mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak.





Ketika para adipati Jawa Timur menolak kekuasaan Mataram, Sunan Prapen kembali menjadi penengah antara Panembahan Senopati dengan Jayalengkara, adipati Surabaya, pada 1588. Namun hubungan Giri dan Mataram memburuk ketika Giri dibawah Kawis Guwa, dan Mataram dibawah Sultan Agung yang menginginkan agar Giri tunduk pada kekuasaan Mataram. Giri menolak.

Sultan Agung mengutus iparnya, Pangeran Pekik, putera Jayalengkara dari Surabaya, untuk menyerbu Giri. Giri dikalahkan. Kawis Guwa yang memimpin Giri dibawah Mataram hanya bergelar Panembahan. Namun hancurnya Giri terkait pemberontakan Trunojoyo, yang berlatar kebencian kerabat dan ulama pada Amangkurat I yang bengis, serta berkomplot dengan VOC.

Trunojoyo didukung Karaeng Galesong, pemimpin pelarian pengikut Sultan Hasanuddin yang dikalahkan VOC dan Arung Palakka. Trunojoyo juga didukung Panembahan Maswitana atau Panembahan Giri, yang tidak suka pada Amangkurat I karena ia membunuh 6000 ulama atas tuduhan menyebarkan isu ketidakpuasan rakyat pada raja.


Mushola

Mataram berhasila dikalahkan oleh Trunojoyo, dan Istana Mataram di Plered direbut. Sunan Amangkurat I lari dan wafat dalam pelarian. Keinginan Amangkurat II untuk merebut tahta Mataram, dimanfaatkan VOC. Perjanjian Jepara (1677) memaksa Amangkurat II menyerahkan pesisir Utara Jawa ke VOC setelah VOC membantunya mengalahkan Trunojoyo.

Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker, dan dihukum mati pada 2 Januari 1680 oleh Amangkurat II. Pada April 1680 serangan besar-besaran terhadap Giri dilancarkan pasukan Amangkurat II yang didukung VOC. Panembahan Giri pun ditangkap dan dihukum mati dengan dicambuk.

eh kalo sobat mau tanya lebih lanjut nih sejarahnya tempat ini secara detil ada juru kuncinya loh rumahnya disebelah kiri, rumah terakhir saat mendaki anak tangga. Bisa tanya ke bapak juru kuncinya sekalian kan bisa masuk ke kompleks makam raden supeno.



Comments